tantangan wakaf uang

Potensi wakaf di Indonesia memang sangat besar. Dengan adanya harta wakaf ini bisa meningkatkan kesejahteraan umum, sehingga wajar jika sosialisasinya digencarkan di tengah masyarakat belakangan ini.

Namun, menurut Sekjen Kementerian Agama Nur Syam, ada enam tantangan perwakafan yang menjadi perhatian semua pihak. Apa saja?

  1. Tantangan pertama adalah mengenai validasi data aset wakaf itu sendiri. Baik itu wakaf berupa benda ataupun wakaf tunai.
  2. Peningkatan pengumpulan wakaf berupa uang. seperti diketahui potensi wakaf di Indonesia bahkan mencapai angka Rp 180 triliun menurut data dari Badan Wakaf Indonesia (BWI). Namun pada 2017 total dana yang berhasil dihimpun baru mencapai Rp 400 miliar. Sedangkan menurut data dari Bank Indonesia, potensi sektor sosial Islam yang juga mencakup sistem wakaf setara dengan 3,4 persen PDB Indonesia atau sekitar Rp 217 triliun. Angka realisasi inilah yang harus terus diupayakan agar meningkat dan mencapai angka potensi tersebut.
  3. Sertifikasi tanah wakaf. Ini memang sering menjadi masalah sengketa. Tanah yang sudah diwakafkan sering disengketakan bisa karena harga tanah di tempat tersebut sudah mahal harganya, dan lainnya. Dan banyak tanah wakaf tersebut yang belum memiliki sertifikat sehingga mudah untuk disengketakan oleh ahli waris, misalnya. Sehingga permasalahan sertifikasi tanah wakaf ini juga akhirnya menghambat program pembangunan nasional. Namun pemerintah melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Badan Pertanahan Nasional (BPN) terus berkomitmen untuk membantu penyelesaian sertifikasi tanah-tanah di Indonesia, khususnya tanah wakaf.
  4. Kemudian, sengketa tanah wakaf yang memerlukan mediasi dan advokasi serta ruislag (tukar guling) tanah wakaf yang bermasalah. Ini tentu akan banyak menghabiskan waktu dan tentu saja menjadi tantangan tersendiri.
  5. Pemanfaatan aset wakaf untuk kegiatan ekonomi produktif yang memberi nilai tambah untuk kesejahteraan umat.
  6. Mengenai kapasitas dan tanggung jawab para nazhir. Nazhir merupakan pihak yang menerima harta benda wakaf yang diberikan oleh wakif untuk dikelola dan dikembangkan, dan hasilnya sesuai untuk peruntukannya. Nazhir ada jenis-jenisnya, bisa berupa perseorangan, badan hukum, dan juga organisasi. Nazhir tentu saja punya kapasitas dan tanggung jawab sehingga memiliki persyaratan agar bisa harta wakaf yang diamanahkan padanya bisa produktif dan bermanfaat. Meskipun keberadaan nazhir perseorangan sah secara hukum Islam, namun ada baiknya untuk menitipkan harta pada nazhir berbentuk organisasi atau lembaga seperti yang mulai direkomendasikan oleh pemerintah dan juga para ulama.

Alasannya karena nazhir perseorangan memiliki keterbatasan masa hidup, sementara mengelola wakaf mungkin saja dalam jangka waktu panjang. Sehingga menitipkan harta pada nazhir perseorangan berpotensi menimbulkan permaslaahan nantinya.

aset tantangan wakaf

Pemerintah juga mengharapkan agar berbagai tantangan ini bisa diperhatikan lebih oleh seluruh jajaran pengurus Badan Wakaf Indonesia (BWI) agar isu-isu seperti ini segera diberikan penanganan.

Tantangan lainnya adalah mengenai literasi soal wakaf yang belum merata pada masyarakat. Baik itu mengenai wakaf itu sendiri, jenis-jenis wakaf, pengelolaan aset yang belum produktif, dan lain sebagainya.

Wakaf di Indonesia menurut masyarakat masih identik dengan harta yang tidak bergerak saja, padahal wakaf berupa uang tunai juga diperbolehkan. Diharapkan dengan begitu semakin banyak masyarakat yang mau untuk berwakaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here